Tanyakan Hati Kecilmu
- HMI FBE UII

- Mar 27, 2021
- 3 min read
Updated: Mar 30, 2021
Tinta Dakwah
Oleh : Nanda Anata Batubara
Hakikat Hati Manusia
Hati merupakan sumber dari segala sumber dari perbuatan manusia, Hati yang akan mendorong seorang manusia dalam melakukan perbuatan baik atau mendorong untuk perbuatan buruk. Manusia bisa menjadi orang yang baik atau buruk tergantung atas kondisi hattinya sendiri. Seperti ibaratnya sebuah cangkir yang kosong, apabila cangkir tersebut berisi teh maka suasana kita mendorong untuk kebaikan, dan apabila cangkir berisi racun maka suasana kita mendorong untuk keburukan.
Hati ada diantara dua hal, Kadang hati kita cenderung kepada keimanan, ma’rifah dan kecintaan kepada Allah semata, dan kadang condong kepada panggilan syetan, hawa nafsu dan tabiat tercela. Hati semacam inilah yang diincar oleh syetan karena memiliki potensi yang besar untuk ditaklukkannya. Inilah tipe hati memiliki nafsu yang berada diantara jalan menuju kebaikan dan keburukan (nafsu Lawwamah).
Kondisi Hati Manusia
Berbicara tentang hati, Pakar Tasawuf Imam Al Ghazali membagi tiga kategori hati manusia yang perlu kamu ketahui. Pertama, hati yang sehat. Kondisi hati yang sehat menyebabkan keselamatan, Di mana hati yang sehat memiliki tanda-tanda di antaranya, imannya kokoh, ahli bersyukur, tidak serakah, khusyuk dalam beribadah, suka berdzikir, penuh berkah. Hati yang sehat akan segera sadar bila melakukan kesalahan dengan cara bertobat. Pemilik hati yang sehat akan merasakan hidup yang tentram dan damai.
Kedua, hati yang sakit. Hati sakit adalah hati yang masih memiliki keimanan dan masih mau melakukan ibadah. Namun hati yang sakit juga ternoda maksiat dan dosa. Tanda-tandanya adalah selalu gelisah, jauh dari ketenangan, mudah marah, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, susah menghargai orang lain. Bisa dikatakan pemilik hati yang sakit ini, menjalani kehidupan pun merasa kurang nyaman.
Ketiga, hati yang mati. Hati yang mati adalah hati yang mengeras karena banyaknya kotoran yang melekat, akibat dari dosa-dosa hasil dari perbuatanya.
Ada Apa Dengan Hati Kita?!
Allah Ta’ala sangat memperhatikan kondisi hati setiap hamba-Nya. Hati yang dijaga akan senantiasa memancarkan kekuatan iman, semakin tenang dengan melakukan kebaikan-kebaikan, Allah berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2).
Dalam melakukan suatu amal atau pekerjaan seperti halnya tugas, tanggungjawab, dan juga dalam melakukan kewajiban, ada waktu dimana kita jenuh atau lelah. Jenuh merupakan sikap yang wajar bagi manusia dan secara tidak sadar kita juga melewati rasa jenuh tersebut, bukan berarti apabila kita mersakan jenuh, Lelah, dan bosan kita lepas dari segela tanggung jawab kita, jadikan rasa tersebut sebagai bentuk rasa bersyukur kita masih diberi kesempatan dalam melakuan tersebut, seperti halnya Amanah atau tanggung jawab, kita sudah diberi kepercayaan dalam melakukan amanah tersebut jangan buat kepercayaan yang diberikan kita kacangi atau kita abaikan hanya dengan rasa jenuh tadi, mari kita jadikan itu sebagai muhasabah bagi kita untuk memperbaiki rasa hati kita, mungkin kita perlu refersing atau ngopi dan hiburan-hiburan lainnya, lakukan kegiatan-kegiatan yang membuat kita Kembali bersemangat dan Kembali ke zona zaman.
Hati Sebagai Raja
Pantas jika dikatakan hati adalah inti atau raja dari setiap manusia. Sebab, pikiran, ucapan dan perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi hatinya. Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatan manusia dan apabila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Hati seorang Muslim akan semakin hidup dengan konsisten (istiqomah) Apab8ila dia semata-mata taat kepada Allah. Dan, jika itu berhasil dilakukan secara terus-menerus, insha Allah, kebahagiaan akan semakin nyata dalam kehidupannya. Akan tetapi, karena lemahnya iman, banyak di antara umat Islam yang abai terhadap masalah hati ini. Padahal, bahagia tidaknya setiap Muslim sangat bergantung pada kondisi hatinya. Untuk itu, Mari kita tanyakan kepada hati kecil kita, mari kita berumahsabah lagi intropeksi lagi diri kita agar kita dapat menaklukkan raja dalam diri kita.




Comments