top of page
Search

NARASI ORGANISASI PERKADERAN DI TENGAH PUSARAN ERA DIGITAL

  • Writer: HMI FBE UII
    HMI FBE UII
  • Nov 22, 2021
  • 5 min read

Oleh: Bimantara Muhammad

Detik ini, kemajuan melalui inovasi dalam sains dan tek nologi sangat luar biasa, seperti peningkatan dramatis dalam daya komputasi. Hal ini berefek pada peningkatan bisnis dan daya masyarakat. Pada saat yang sama, dunia menghadapi tantangan berskala global seperti menipisnya sumber daya alam, pemanasan global, tumbuhnya kesenjangan ekonomi, dan sampai merubah sendi-sendi pendidikan. Kita hidup di zaman yang penuh ketidakpastian, dengan kompleksitas tumbuh di semua tingkatan. Oleh karena itu, sangat penting bagi organisasi perkaderan untuk tetap bergerak dalam mensiasati situasi dan keadaan dengan seoptimal mungkin guna mendapatkan pengetahuan baru dan menciptakan nilai-nilai baru untuk membuat hubungan antara “manusia dan benda” dan antara “dunia nyata dan dunia maya” secara efektif dan efisien demi menyelesaikan masalah di masyarakat, menciptakan hidup lebih baik untuk kader dan organisasi melalui inovasi teknologi atau digitalisasi. Selain dari itu, kita pada hari ini memasuki era disrupsi yang dimana menurut Merriam-Webster, “disrupsi adalah tindakan atau proses mengganggu sesuatu: istirahat atau gangguan dalam perjalanan normal atau kelanjutan dari beberapa kegiatan, proses, dll.” Secara praktis, disrupsi adalah perubahan berbagai sektor akibat digitalisasi dan “Internet of Thing” (IoT) atau “Internet untuk Segala”. Tanda-tanda tersebut bisa dilihat dengan begitu maraknya perubahan-perubahan alat ataupun tata cara pelaksanaan baik di sektor bisnis, pendidikan ataupun dampak terhadap organisasi perkaderan. Menurut Weka Widayanti “perkembangan sains tidak bisa ditolak, ia terus bergulir dan manusia harus menyesuaikan dengan perkembangan”. Pengaruh digitalisasi tadi perlu di respon dengan serius oleh organisasi perkaderan mengingat, hal tersebut menyentuh sendi-sendi atau pilar dasar gerak organisasi mulai dari ranah individu, manajemen organisasi, komunikasi dan sampai sistem atau pola kaderisasi organisasi. Pertimbangan pendidikan transisi menuju pembaharuan Era disrupsi mengarahkan kita pada fenomena yang mengharuskan manusia untuk mengkombinasikan antara teknologi computer dan internet beriringan dengan manusia atau yang biasa disebut era digital, yang dimana hal tersebut berpengaruh salah satunya pada alat komunikasi melalui interaksi digital atau online. Hal tersebut disambut gembira sekaligus was-was oleh hampir seluruh organisasi karena, sedikit banyak keadaan digital tadi berpengaruh terhadap pola interaksi pendidikan didalam organisasi. Namun, komunikasi digital saja tidaklah cukup. Kenyataannya, justru di saat dunia online berkembang, sentuhan offline menjadi titik differensiasi yang kuat. Selain melakukan intervensi digital dalam ranah pendidikan dengan integrasi antara mesin, komputer, dan infrastruktur telekomunikasi yang menghadirkan aplikasi ataupun sofware yang mampu menjembatani layanan komunikasi virtual dan data secara cepat, efektif, dan efesien. Tetapi interaksi offline tetaplah menjadi ruang utama dalam perkaderan. Humanistic touch, inilah kata kunci dalam interaksi offline pendidikan. karena pendidikan sejatinya bukanlah sekedar proses transfer of knowledge tetapi juga transfer of value, pendidikan bukanlah sekadar ruang pengayaan kognisi dan afeksi tetapi yang lebih penting daripada itu adalah peneguhan sikap keberagamaan dan pengamalannya secara konkret. Sehingga hal tersebut perlu direspon dan disikapi oleh organisasi perkaderan dalam menggerakkan siklus kaderisasi baik organisasi, perkaderan ataupun pengader yaitu pentransfer nilai dan ilmu. Pengader sebagai manifestasi HMI Mengutip dari Muqaddimah Pedoman Perkaderan HMI “pengader merupakan seorang pejuang, pengader HMI menempatkan diri sebagai pelopor dalam melaksanakan amar ma’ruf nahy munkar , baik dalam dinamika intern HMI maupun lingkungan eksternal HMI. Kepeloporannya dalam kerja kemanusiaan atau amal sholeh merupakan tuntutan atas tanggung jawab kemasyarakatannya dalam berbagai realitas kehidupan umat manusia. Langkah amar ma’ruf ini dilakukan untuk menggali potensi kreatif menjadi bentuk amal sholeh bagi kader-kader HMI maupun masyarakat. Sedangkan nahy munkar dilakukan untuk membendung potensi destruktif dari manapun datangnya. Konsekuensi dari tiga sosok potensi yang padu, yakni pendidik, pemimpin, dan pejuang, maka pengader adalah insan yang memiliki kesadaran ideologis yang tinggi, ikhlas berjihad di jalan Allah SWT, istiqomah, memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang relevan dengan tugasnya sebagai pengelola latihan HMI”. Jika kita garis bawahi pada kalimat terakhir dapat diwujudkan dengan kontekstualisasi keadaan dengan bentuk latihan atau kaderisasi, kontekstualisasi pola tadi semata-mata untuk menunjukkan bahwa HMI mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, terdepan dalam ranah penyesuaian dan perkembangan demi terciptanya tujuan-tujuan yang luhur organisasi. Semangat wacana Berangkat dari itu, semangat wacana menangappi situasi dan fenomena yang harus dihadirkan sebagaimana tercantum dalam konstitusi bagian Tujuan perkaderan, point ilmu dan hikmah, yang salah satu pointnya adalah “Sanggup mengantisipasi keadaan dan siap menghadapi segala perubahan, karena memiliki daya apresiasi, prediksi dan antisipasi yang tinggi” yang tentunya hal itu terdapat didalam tubuh pendidikan & kaderisasi yang dimana, perlu disinkronkan dengan era digitalisasi yang dihadapi global ataupun organisasi dan pendidikan, perkembangan ini tidak boleh hanya ditanggapi sebagai angin lalu atau fenomena issue tahunan tetapi ini merupakan concern yang menyentuh ranah-ranah ideologis, operasional organisasi yang artinya, situasi dan fenomena ini harus direspon melalui tata kelola dan skema yang sesuai dengan situasinya. Dengan demikian, peran serta fungsi organisasi tetap dapat diimplementasikan kendati situasi dan kondisi berubah atau berpindah secara simultan Organisasi perkaderan yang memiliki peran sebagai lokomotif regenirasi insan cita atau kader paripurna yang di janjikan oleh organisasi harus melalui proses-proses penyesuaian dan perkembangan teknologi hari ini melalui digitalisasi. Dan hal itu harus di dukung oleh instrument perkaderan atau organisasi untuk melanggengkan proses digitalisasi tadi dengan semangat dan nilai bahwa digital secara istilah yang dapat kita artikan sebagai relating to computer technology, especially the internet atau berkaitan dengan teknologi computer, khususnya internet (Menurut Cambridge University) adalah ranah dan medan tempur baru bagi organisasi perkaderan dan perjuangan dalam berdakwah, berjuang dan mengimplementasikan potensi kader baik secara individu ataupun organisasi sebagai kelompok. Sehingga, semangat wacana digital inilah yang menjadi penggerak seluruh instrunmen perkaderan nantinya baik pengader, kader, perkaderan & tujuan organisasi. Pendidikan HMI dalam Pusaran Digital Dalam kondisi semangat digitalisasi tadi, perlu dipertegas penyelarasan fungsi-fungsi instrument Organisasi atapun perkaderan tadi agar HMI dapat unggul, kompeten, efektif dan terdepan dalam proses-proses organisasi dan perkaderan dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi. Yang dimana hal tersebut dapat diraih dan diawali dengan memperhatikan sisi pengader dan perkaderan. Kemampuan tenaga pengader hari ini, bukan hanya saja cerdas dan mapan dalam mengimplementasikan fungsi serta tugasnya, tetapi dalam kondisi digital sekarang, seorang pengader harus memiliki kemahiran untuk kreatif dan inovatif dalam ranah digital dan teknologi telekomunikasi. Hal-hal tadi diperlukan tiada lain untuk menunjang proses-proses pendidikan. Keterampilan seorang pendidik dapat dilihat dengan kecakapan membangun narasi secara langsung ataupun melalui keterampilan digital, hal ini menjadi penting jika dilihat dari proses persaingan perkaderan antara organisasi dengan eksternal baik organisasi lain ataupun sumber-sumber informasi yang beredar secara meluas dan murah akses. Sehingga, kemampuan seorang pengader nanti dapat di integrasikan dengan proses pendidikan. Dan dengan memasuki era digital sekarang, kita bisa menggambarkan situasi perkaderan digital dengan pembagaian fungsi/peran kader berdasarkan pendidikan umum yang ada di HMI misalnya. LK 1 melahirkan kader follower, yaitu seseorang yang mampu membantu menghidupkan asset digitalisasi organisasi, LK 2 melahirkan content creator, yang mampu menghadirkan konten kreatif untuk kehidupan dan pengembangan orgaisasi dan LK 3 melahirkan influencer, yang mampu menarasikan, menggerakkan kader/organisasi ataupun lingkungan sekitar. Hal baru yang dihadirkan dalam proses perkaderan era digital, tidak hanya menonjolkan sisi ideologis dan metodologi proses perkaderan tetapi, kecakapan dan kemampuan organisasi dan kader untuk terlibat dan berani untuk selalu membangun narasi dalam skema pendidikan yang bertanggung jawab di media digital sesuai dengan karakter dan nilai organisasi dan agama. Maka dari itu, dengan memadukan dua variable tadi kita bisa melihat bahwa terdapat jihad atau proses dalam bentuk segar yaitu dalam skema atau poros pendidikan melalui pengoptimalan digital melalui digitalisasi dan narasi. Hal tersebut tidak bisa diniscayakan dari dan melihat fenomena dan perkembangan zaman yang begitu kompleks dan berubah-ubah. Namun, pendekatan menuju situasi digital dapat diimplementasikan dengan catatan seorang kader sudah terinternalisasi nilai-nilai ideologis organisasi didalam tubuh kader dan begitupun proses pendidikan sudah menemukan rancangan dan alat yang sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam proses perkaderan. Sehingga pada akhirnya, digitalisasi yang dihadapi dunia, organisasi dan proses pendidikan tidak hanya dilihat sebagai fenomena atau bentuk baru proses kaderisasi dalam tubuh organisasi perkaderan dan perjuangan. Tetapi, digital adalah bentuk baru perjuangan kader dan HMI dalam menjalankan peran serta fungsinya sebagai insan ulil albab yang bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT.

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

©2025 by HMI FBE UII. Proudly created with Wix.com

bottom of page